Selasa, 01 November 2011

Mohammad Yamin, Pujangga Peletak Dasar Negara



KELAHIRAN bangsa Indonesia, tidak terlepas dari peran para pemuda, salah satunya melalui deklarasi Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, 83 tahun silam. 

Di antara sejumlah tokoh pemuda saat ini, satu orang yang cukup menonjol, yakni Moehammad Yamin yang merumuskan naskah Sumpah Pemuda.

Peran Yamin di kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia, memang seringkali tersalip oleh nama besar sang proklamator, Presiden pertama Indonesia Ir Soekarno dan wakilnya Mochammad Hatta. Tapi di balik itu semua, sebenarnya Yamin-lah yang menjadi salah satu peletak dasar-dasar republik ini.

Yamin yang dilahirkan di Sawahlunto Sumatera Barat pada 23 Agustus 1903, melewati pendidikan di tempat yang berbeda-beda dan juga disiplin ilmu yang berlainan satu sama lainnya. Setelah menamatkan HIS di Padangpanjang, Yamin masuk sekolah dokter hewan di Bogor, lalu menyeberang ke AMS di Yogyakarta sampai akhirnya mendapat gelar meester in de rechten atau sarjana hukum di Recht Hogeschool, Jakarta.

Di zaman penjajahan, Yamin termasuk segelintir orang yang beruntung karena dapat menikmati pendidikan menengah dan tinggi. Lewat pendidikan itulah, Yamin sempat menyerap kesusastraan asing, khususnya kesusastraan Belanda.

Dari riwayat pendidikannya dan keterlibatannya dalam organisasi politik maupun perjuangan kemerdekaan, Yamin termasuk seorang yang berwawasan luas. Walaupun pendidikannya pendidikan Barat, dia tidak pernah menerima mentah-mentah apa yang diperolehnya itu sehingga tidak menjadi kebarat-baratan. Dia tetap membawakan nasionalisme dan rasa cinta Tanah Air dalam karya-karyanya. 

Yamin tidak terhanyut begitu saja oleh hal-hal yang pernah diterimanya, baik itu berupa karya-karya sastra Barat yang pernah dinikmatinya maupun sistem pendidikan Barat yang pernah dialaminya. Karena kehausannya pada beragam ilmu itu, Yamin menguasai banyak bidang. Karena itu, Yamin bisa disebut sebagai budayawan, penyair, dramawan, juga politikus. Selain ahli hukum tata negara, anak mantra kopi ini juga seorang pujangga.

Karangannya sangat banyak, tidak sedikit yang mengandung unsur sejarah dan kenegaraan antara lain: Naskah Persiapan Undang-undang Dasar (1960), Ketatanegaraan Madjapahit, Sang Merah Putih 6000 Tahun, Tanah Air (kumpulan puisi, 1922), Ken Arok dan Ken Dedes (drama, 1934), Tan Malaka (1945), Sapta Dharma (1950), Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia (1951), Kebudayaan Asia-Afrika (1955), Konstitusi Indonesia dalam Gelanggang Demokrasi (1956). 

Yamin termasuk penyair angkatan pujangga baru. Yamin merupakan salah satu perintis puisi modern di Indonesia. Namun Yamin tak tercerabut dari kepakarannya di bidang hukum. Dia adalah salah satu perumus dasar negara selain Soekarno dan Soepomo.

Bersama Bung Hatta, Yamin juga konseptor pasal-pasal yang memuat hak asasi manusia dalam UUD 1945 pada rapat-rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Bahkan diyakini Yamin-lah yang memberikan nama Pancasila kepada Soekarno dalam pidato  1 Juni 1945. 

Yamin memulai karier politiknya ketika menjadi Ketua Jong Sumatranen Bond. Pada kongres pemuda pertama tahun 1926, Yamin mencetuskan tentang pentingnya penggunaan bahasa kesatuan, yang dia prediksikan bakal berkembang dari bahasa Melayu. Pada 28 Oktober 1928, Yamin ditunjuk merumuskan teks Sumpah Pemuda yang salah satunya merumuskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Pada masa Indonesia merdeka, kegiatan politiknya pernah diliputi konflik. Pada awal tahun 1946 dia bergabung dengan Persatuan Perjuangan (PP) pimpinan Tan Malaka, sebuah organisasi yang menentang politik diplomasi Kabinet Sjahrir dengan pemerintah Belanda. Selain itu, juga menuntut pengakuan 100% Belanda atas kemerdekaan Indonesia.

Yamin dinyatakan terlibat dalam usaha merebut kekuasaan yang dikenal dengan nama ‘Peristiwa 3 Juli 1946′ dan dijatuhi hukuman penjara empat tahun. Pada 17 Agustus 1948 Presiden Soekarno memberikan grasi kepada para tahanan politik yang terlibat dalam peristiwa itu. Hanya selang setahun kemudian, dia dipercaya menjadi penasihat delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB).

Pada 1951, Yamin diangkat jadi Menteri Kehakiman, lalu Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (1953-1955), Wakil Menteri Pertama Bidang Khusus, Menteri Penerangan, Ketua Dewan Perancang Nasional (Depernas) yang menghasilkan rencana dan pola Pembangunan Semesta Berencana, menjadi anggota DPR-RIS yang kemudian menjadi DPR-RI (sejak 1950), anggota DPR-RI dan Badan Konstituante hasil pemilihan umum 1955, kemudian juga anggota DPR-GR dan MPRS setelah Dekrti Presiden 1959.

Dia juga diangkat sebagai penasehat Lembaga Pembinaan Hukum Nasional, anggota Dewan Pertahanan Nasional, anggota staf Pembantu Panglima Besar Komando Tertinggi Operasi Ekonomi Seluruh Indonesia, anggota Panitia Pembina Jiwa Revolusi, ketua Dewan Pengawas LKBN Antara (1961-1962).

Yamin mendapatkan berbagai bintang penghargaan, dan setelah wafat pada 17 Oktober 1962 di Jakarta, dia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Tapi penghargaan dan anugerah yang menjadi tujuannya terus berjuang sampai akhir hayat.

Begitulah Muhammad Yamin. Hidupnya lebih banyak untuk kepentingan orang lain.  Hampir sepanjang usianya diabdikan untuk meletakkan dasar yang kukuh bagi Indonesia.  Patriotisme Yamin mengilhami untuk menumbuhkan kecintaan pada bangsa dan sastra. Yamin telah menggugah patriotisme yang diwujudkan lewat kecintaan pada bahasa dan pengembangan sastra Indonesia.(*)