Minggu, 21 April 2013

Link and Match Pendidikan dan Industri




PENGANGGURAN saat ini masih menjadi masalah pelik bagi bangsa Indonesia.  Tercatat dari jumlah angkatan kerja Indonesia sebanyak 119,39 juta orang, angka pengangguran mencapai sekitar 8% atau sekitar 9,5 juta orang. Sedangkan di Jabar, pada Februari 2012 tercatat 1.969.006 orang masih menganggur. Jumlah yang masih cukup besar. Tentunya angka tersebut akan kembali bertambah saat sekitar 1,5 juta siswa kelas 3 SMA/SMK lulus tahun ini secara nasional. 

Ketenagakerjaan kita pun masih didominasi pekerja berpendidikan rendah dan kurang terdidik. Berdasarkan pendidikan, secara nasional tenaga kerja kita didominasi lulusan SD sebesar 50,4%; disusul lulusan SMP 19,1%; SMA/SMK 22,9%; akademi/diploma 2,8%; dan sarjana hanya 4,8%. Dari total tenaga kerja tersebut, hanya 30,6% yang masuk kategori terdidik, sedangkan sisanya kurang terdidik.

Kesempatan kerja sendiri sebenarnya cukup besar. Sayangnya, dari pertumbuhan angkatan kerja Indonesia yang mencapai 2,91 juta per tahun, sekitar 80%-nya merupakan tenaga kerja tidak terlatih. Berdasarkan data Kadin pusat, sekitar 13 asosiasi industri membutuhkan sekitar 1,98 juta tenaga kerja baru.

Tentunya ini menjadi peluang bagi angkatan kerja baru, khususnya para lulusan SMA/SMK.  Selama ini, tingkat pengangguran lulusan SMA/SMK masih sekitar dari sekitar 13-14%. Di Jabar misalnya, pada Februari 2012, tingkat pengangguran terbuka (TPT) SMK mencapai 14,52%. 

Lulusan sekolah sederajat SMA sendiri, masih banyak dibutuhkan sektor industri. Di Kabupaten Bandung saja, tercatat sebanyak 60 industri, khususnya yang bergerak di sektor pertekstilan, membutuhkan setidaknya 6.000 tenaga kerja baru. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 5.000 orang.

Untuk itu, para lulusan SMA/SMK ini perlu dipersiapkan dengan matang agar bisa langsung bekerja di industri. Para lulusan SMK, jelas mempunyai peluang lebih besar untuk bisa menerapkan ilmu yang didapatnya di dunia kerja. Karena sistem pendidikannya lebih menitikberatkan pada keahlian yang disesuaikan dengan kebutuhan industri. Bahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengklaim, sebanyak 70% lulusan SMK telah terserap dunia industri, dan 10% lainnya melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Sayangnya, masih sekitar 20% lulusan SMK ini menjadi pengangguran.

Ke depan, tentu keberadaan SMK harus lebih ditingkatkan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Saat ini, di seluruh Indonesia terdapat lebih dari 9.000 SMK, dan dari jumlah tersebut Jabar menduduki peringkat pertama dengan 1.704 sekolah. Namun jumlah SMK ini masih jauh dibanding SMA dengan komposisi 49:51.

Rencana Kemendikbud untuk meningkatkan jumlah SMK sebagai tempat menghasilkan calon tenaga kerja terdidik patut disambut baik dan didukung sepenuhnya. Namun tentunya langkah ini pun harus diikuti dengan kerja sama yang baik dengan sektor industri sehingga bisa meminimalisasi angka pengangguran dari lulusan SMK.

Metode link and match yang sudah banyak diterapkan di negara-negara maju, patut menjadi acuan bagi penyusunan kurikulum pendidikan di SMK. Para siswa pun harus lebih dini diperkenalkan dengan dunia kerja yang akan mereka jalani kelak. Salah satunya dengan lebih banyak memberikan kesempatan bagi mereka untuk magang di perusahaan-perusahaan sesuai dengan pendidikan keahlian sehingga saat yang didapat di sekolah. (*)