Rabu, 24 April 2013

Penyederhanaan Parpol Peserta Pemilu




SENIN (14/1) kemarin, KPU akhirnya mengundi nomor urut partai politik peserta Pemilu 2014. Seperti telah ditetapkan sebelumnya dalam Rapat Pleno KPU, 10 parpol dipastikan mengikuti pemilu setelah dinyatakan lolos verifikasi faktual. Sembilan di antaranya adalah parpol penghuni parlemen, ditambah satu partai baru, yakni Partai Nasional Demokrat.

Pengundian nomor urut, baik di ajang pemilukada, pemilu, maupun pemilu legislatif seperti saat ini, selalu menarik perhatian. Pasalnya, budaya dan kepercayaan orang Indonesia, tidak lepas dari nuansa klenik, yang menyatakan ada nomor keberuntungan dan juga nomor sial. Kendati demikian, semua pengurus parpol, setidaknya menyepakati pada akhirnya tidak mempermasalahkan nomor cantik tersebut.

Namun di balik tuah nomor cantik atau nomor sial tersebut, sebenarnya justru penetapan jumlah10 parpol inilah yang layak mendapat perhatian. Betapa tidak, coba saja bandingkan dengan jumlah peserta Pemilu 2009 lalu atau pemilu legislatif sebelum-sebelumnya, setelah keran demokrasi dibuka pascatumbangnya Orde Baru yang berganti dengan era Reformasi.

Seusai Reformasi, Indonesia diterpa euforia demokrasi. Orang ramai-ramai membentuk partai politik dan berebut menuju gedung parlemen. Hasilnya? Pemilu 1999 silam diikuti 48 parpol. Jumlah yang begitu besar. Situasi ini hampir serupa dengan gelaran Pemilu demokratis pertama di Indonesia pada 1955 yang diikuti 172 parpol. Bayangkan, betapa pusingnya warga negara Indonesia saat memasuki TPS ketika harus membuka surat suara. Namun pada Pemilu berikutnya pada 1971, oleh rezim Orde Baru disederhanakan menjadi 10 parpol, sebelum akhirnya hanya tiga kontestan pada Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997.

Demikian pula pasca-Pemilu 1999, pemerintah berupa menyederhanakan jumlah parpol, melalui UU Pemilu, sehingga pada Pemilu 2004 berkurang menjadi 24 parpol yang berlaga. Sayangnya, terjadi inkonsistensi dalam upaya penyederhanaan parpol peserta pemilu tersebut. Buktinya, pada Pemilu 2009, jumlahnya kembali bertambah menjadi 38 kontestan.

Nah, pada Pemilu 2014, semangat penyederhanaan parpol peserta pemilu, kembali digelorakan oleh pemerintah melalui KPU. Dengan berbagai persyaratan, akhirnya hanya 10 parpol yang berhak berlaga pada tahun depan.

Penetapan nomor urut parpol yang hanya 10 ini, mudah-mudahan menjadi tonggak dari proses penyederhanaan parpol peserta pemilu. Kita berharap jumlah tersebut tidak lagi membengkak pada pemilu-pemilu berikutnya, justru seharusnya lebih mengerucut lagi. Dan yang lebih penting, penyederhanaan parpol di parlemen tersebut, bisa lebih meningkatkan kualitas wakil rakyat kita di gedung parlemen, yang lebih baik lagi dalam memperjuangkan aspirasi rakyatnya. (*)