Rabu, 24 Juli 2013

Kiprah Dinasti Sunarya di Dunia Padalangan




Diteruskan hingga Generasi Keempat
SEPAK terjang keluarga Almarhum Abah Sunarya, dalam dunia padalangan di Jawa Barat umumnya Indonesia, sudah tidak bisa diragukan lagi. Dalam lebih kurang empat dasa warsa trakhir ini, dua putra Abah Sunarya yang mewakili Dinasti Abah Sunarya, berhasil merajai jagad padalangan di tatar Sunda. Bagaimana kiprah keturunan Abah Sunarya lainnya?

Setelah melahirkan dua dalang kondang, yakni Ade Kosasih Sunarya dan Asep Sunandar Sunarya, dinasti Sunarya tampaknya tidak pernah kehabisan penerus. Pada generasi kedua Sunarya, sebenarnya terdapat 5 putra pasangan Abah Sunarya dan Cucu, yang mengikuti jejak ayahnya serta kakeknya Abah Johari, sebagai dalang. Namun dalam perjalanannya, Ade dan Asep yang tetap eksis dan merajai duniaa padalangan. Sementara tiga saudaranya, yakni Ugan Sunagar Sunarya dan Iden Sudrasana Sunarya, kendati masih eksis tapi sudah jarang tampil. Sementara putra yang lainnya Agus Muhram Sunarya beralih menjadi seorang da’i.
           
Selagi generasi kedua ini masih berjaya, Abah Sunarya yang menyandang nama Pusaka Giriharja, kembali menurunkan keahliannya kepada cucu-cucunya.  Setidaknya 7 cucu Abah yang menyandang nama Putra Giriharja ini, telah tampil menjadi dalang kondang mengikuti jejak orang tuanya. Ade Kosasih menurunkan keahliannya kepada Deden Sunantara Kosasih Sunarya.

Dan dari keturunan Asep Sunandar, tampil Dadan Sunandar Sunarya dan Yogaswara Sunarya. Iden Sudrasana pun diwakili oleh putranya Kiki Mardani Sunarya. Selain cucu dari anak laki-laki, tampil juga cucu dari putri Abah Sunarya, seperti Iwan R Sunarya, Dede Chandra Sunarya dan Rahmatika Sunarya. Sedang dari generasi keempat, sudah bersiap-siap para dalang cilik yang mulai meramaikan seni padalangan. Salah satunya cucu dari Ade Kosasih yang masih duduk di bangku SD, Aditia Kontea Kosasih Sunarya.
           
Uniknya, keahlian mengerakkan dan menyampaikan cerita sekaligus menghidupkan karakter wayang ini, diturunkan secara otodidak. Pada setiap generasi, tidak ada pelajaran khusus yang diberikan kepada para dalang ini. Mulai dari generasi Ade dan Asep, hingga generasi Aditia. Semuanya berjalan begitu alamiah, hanya melalui penglihatan dan pendengaran sehari-hari.
           
“Abah dulu tidak pernah mengajarkan khusus. Sakareupna (semaunya) saja. Begitu juga Saya, tidak pernah mengajarkan untuk jadi dalang kepada anak-anak,” ungkap Asep Sunandar Sunarya.
           
Namun lingkungan dan darah seni yang mengalir dari Abah Sunarya ini, begitu kuat membentuk para putra, cucu dan cicitnya untuk meneruskan seni budaya kebanggaan urang Sunda tersebut.
           
“Proses di keluarga pada dasarnya sama semua. Mungkin karena di sini lingkungan seni, juga minat, niat dalam hati untuk jadi dalang begitu kuat. Dengan begitu otomatis, dari kecil sampai dewasa terus belajar ngawayang atau ngadalang. Tidak ada pelajaran khusu. Cuma melihat bapak ngadalang saja,” ujar Dadan S Sunarya menimpali.
           
Seni pertunjukkan wayang ini pun mendapat dukungan penuh dari keluarga besar Abah Sunarya lainnya. Hampir seluruh anggota panayagan yang mengiringi pagelaran Giri Harja, berasal dari kerabat dekat Abah Sunarya. Yang jumlahnya mencapai ratusan orang.
           
“Satu Panayagan saja anggotanya bisa 40-50 orang jadi jumlahnya bisa ratusan. Kebetulan saudara-saudara mempunyai potensi seni yang bagus, jadi diajang bergabung dengan panayagan,” jelas Dadan.


Tampilkan Wayang yang Punya Jiwa
Ngadalang ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Butuh waktu bertahun-tahun, untuk bisa tampil sebagai dalang yang mempuni. Bukan hanya keahlian ngawayang, tapi harus bisa ngadalang dengan menghidupkan jiwa pada diri wayang. Pelajaran ini bahkan tidak bisa dipelajari di sekolah formal yang khusus mengajarkan seni padalangan.

Harus bisa membedakan apa itu ngawayang dengan ngadalang,” tandas Asep Sunandar Sunarya. Memang ada perbedaan besar dari kedua kata tersebut. Bisa dipastikan, semua orang bisa ngawayang, tapi tidak semua orang bisa ngadalang.

Ngawayang  bisa dengan mudah dipelajari di sekolah seni formal, seperti SMKI yang pada tahun-tahun sebelumnya membuka jurusan seni padalangan. Tapi untuk tampil sebagai seorang dalang, dibutuhkan waktu hampir sepanjang hayat untuk mempejarinya.
           
Ngawayang itu mengerakkan dan menuturkan cerita wayang. Tapi yang susah adalah memberi jiwa pada wayang. Seakan yang ditonton itu manusia bukan kayu. Memberi karakter pada wayang. Bahkan bisa membuat penonton sedih, saat lakon wayang yang dimainkan sedang sedih. Ini tidak bisa dilakukan dalam 1-2 tahun di sekolaahan. Tapi sepanjang hidup harus terus dipelajari,” ujar Dadan S Sunandar Sunarya, putra Asep Sunandar yang kini telah tampil sebagai dalang kondang meneruskan Dinasti Sunarya ini.
           
Bukan hanya kemampuan memberi jiwa pada karakter boneka kayu yang harus dimiliki dalang. Seorang dalang pun harus mempunyai wawasan yang luas. Pada perkembangan, seni padalangan memang dijadikan media dakwah bagi para penyebar agama Islam di tatar Sunda. Namun, seni budaya yang mengadopsi seni wayang kulit sekitar tahun 1853 oleh Sunan Kudus ini, terus berkembang mengikuti perkembangan jaman.
           
Jadi selain dituntut mempunyai pengetahuan luas di bidang agama Islam, juga harus terus mengikuti perkembangan jaman, sehingga bisa diterima oleh generasi pada jamannya.
           
“Logikanya, kalau kita menceritakan sebuah kerajaan atau negara, kita harus tahu soal ilmu tata negara, hukum, politik, sosial budaya. Kalau menceritakan seorang pandita (kaum ulama penyebar agama), tentu harus mengerti soal agama. Tapi karena ini media dakwah, materi yang disampaikan harus tidak berpihak pada satu golongan. Kalau menceritakan penjahat, tentu harus tahu karakter penjahat,” ujar Dadan.
           
Olah vokal yang dimainkan seorang dalang pun, bukan persoalan mudah. Dalam setiap pagelaran wayang golek, sedikitnya harus dimainkan 20-30 karakter suara tergantung lakon yang dimainkan. Mengolah suara, tidak beda dengan penyanyi, diolah vokal dan terus diasah.

“Karakter suara ini macam-macam. Mulai dari suara laki-laki, itu pun dibagi suara satria dengan berbagai karakternya, ponggawa juga buta. Juaga suara wanita dn sebagainya. Cara berlatihnya hampir sama dengan penyanyi, ada olah vokalnya dan tentunya harus terus diasah,” tandas Dadan.



Berinovasi Sesuai Perkembangan Zaman
Pada awal perkembangannya, seni wayang golek yang tergantung pada pakem seni yang ada, dengan segala unsur metafisika di dalamnya. Namun seiring bergeraknya jaman, wayang golek telah menjelma sebagai satu bentuk kesenian yang bisa diterima semua lapisan masyarakat. Tidak membedakan usia, bangsa, bahasa, bahkan agama sekali pun.

Salah satu upaya keluarga Sunarya agar seni padalangan tidak punah tersapu derasnya budaya luar, adalah dengan terus menampilkan inovasi, kreasi yang bisa diterima generaasi di jamannya. Hal itu lah yang berhasil ditampilkan Asep Sunandar Sunarya, yang membuat masyarakat lebih menyenangi seni wayang golek.
           
Dalam setiap pagelaran wayang golek, para dalang memang selalu menyisipkan adegan bobodoran untuk mengimbangi cerita serius yang dimainkan. Sekaligus menyisipkan pesan-pesan dakwan yang menjadi misi utamanya. Di akhir 1980-an, masyarakat pecinta wayang golek sempat dikejutkan dengan kreasi Ki Dalang berusia 51 tahun tersebut. Sosok buta atau raksasa dalam tokoh wayang yang digambarkan sebagai karakter menyeramkan dan kaku, disulap menjadi tokoh lucu yang bisa mengundang gelak tawa penonton.

Sosok boneka kayu buta, di tangan Asep menjadi lebih hidup. Dia bisa merokok, makan mie dan kelakuan lainnya yang lebih manusia. Pada suatu hari, saat Umar Wirahadikusumah masih menjabat sebagai Wakil Presiden, Asep diundang untuk mentas di Jakarta. Dan pegelarannya itu direkan dan disiarkan TVRI, hingga menyebar ke seluruh Indonesia.

“Itu awalnya, karena kejenuhan. Saya ini sudah sejak 1972 ngadalang. Karena jenuh, akhirnya melahirkan ide untuk membuat kreasi atau inovasi tersebut,” tutur Asep.
           
Untuk bisa terus eksis dalam dunia padalangan, ditegaskan putra Asep, Dadan S Sunandar Sunarya, seorang dalam harus bisa menampilkan kreasi terbarunya yang sesuai dengan perkembangan jaman. Kendati benang merah seni mendalang keluarga Sunarya ini sama, tapi setiap dalangnya mempunyai ciri khas masing-masing. Tidak saling mengekor atau ketergantungan satu sama lain.

“Bapak (Asep) juga tidak tergantung sama Abah (Sunarya). Begitu juga Saya, berusaha agar mempunyai ciri yang membedakan dengan bapak. Kalau mengekor tidak akan berkembang. Jadi sediki banyak harus ada perbedaan. Insya Allah, kalau dalangnya kreatif, inovatif dan performentnya baik dan enak ditonton, profesi bisa menjanjikan,” papar Dadan.

Kreasi para keturunan Abah Sunarya ini terbukti mendapatkan tempat tersendiri di hati para pecintanya. Tak heran bila baik Asep, Ade maupun Dadan menjelajah ke sejumlah negara untuk mementaskan seni wayang golek ini. Negara Amerika dan sejumlah kota di negara-negar Eropa pernah dikunjunginya. Terakhir Asep dan Dadan, diundang oleh Asian Music Circuit (AMC) Inggris untuk mentas dan mengelar workshop di London, Juni (2006) lalu.

“Karena main di tempat asing, tentu yang kita tampilkan masalah yang universal. Lebih banyak menampilkan seni budaya kita, serta gerak wayang. Tidak banyak membahas agama, paling yang universal juga. Karena pada prinsipnya semua agama mengajarkan sama yakni menyuruh pada kebaikan dan melarang pada kejahatan,” jelas Dadan. 



Siapkan Padepokan Cetak Dalang Aspresiatif
Di tengah derasnya pengaruh budaya kontemporer, keluarga Abah Sunarya tetap konsisten mengusung kesenian padalangan yang menjadi kebanggaan urang Sunda. Kendati aspresiasi masyarakat terlebih cukup tinggi, para keturanan Sunarya tidak mau berpuas diri. Para penerus Pusaka Giriharja ini, bertekad lebih mengembangkan seni warisan para sunan ini.

Dari zaman ke zaman, aspresiasi masyarakat terhadap seni wayang golek, terbilang tinggi. Bedanya, dalam jaman serba modern ini, seni budaya yang menjadi pesaing wayang golek semakin banyak. Namun para dalang ini mengaku, tidak pernah kehabisan order. Padahal bisa dibilang tarif nanggap dalang klan Sunarya ini cukup tinggi.

Untuk mentas di dalam Kota/Kabupaten Bandung, dalang sekaliber Ade Kosasih dan Asep Sunandar, paling tidak mematok bayaran sekitar Rp30 juta. Sedang untuk luar kota, tentunya bisa lebih tergantung jauhnya jarak yang ditempuh. Generasi ketiga Sunarya pun, seperti Dadan S Sunandar Sunarya  mempunyai tarif lumayan juga, hingga Rp20 juta sekali mentas.

“Saat ini, undanga mentas selalu ada tiap minggu. Dalam seminggu, bisa 3-4 kali bahkan 6 kali mentas. Tapi sebenarnya puncaknya sebelum krisis ekonomi dulu. Waktu itu Pak Ade dan Pak Asep, sampai bisa mentas tiap hari dalam seminggu. Profesi dalang ini masih tetap menjanjikan, asalkan dalangnya kreatif, inovatif, dan perfomennya bagus. Insya Allah, profesi dalang bisa menghidupi,” ujar Dadan.

Diakui Dadan, tantangan untuk mengembangkan seni wayang golek saat ini semakin berat, dibanding generasi-generasi sebelumnya. Selain bersaing dengan jenis seni tradisional lainnya, derasnya budaya luar menjadi ancaman tersendiri. “Bagi generasi sekarang, tugasnya semakin berat. Khususnya untuk mempertahankan Giri Harja. Karena  saingan dengan budaya lain sangat berat. Tapi kita bertekad untuk terus mengembangkan seni tradisi ini, dan ingin aspresiasi masyarakat semakin meningkat,” ujar Ketua II Persatuan Padalangan Indonesia (Pepadi) Kabupeten Bandung ini.

Untung saja, tugas berat ini tidak ditanggung semata-mata oleh keluarga besar Abah Sunarya saja. Di tatar Sunda ini, masih ada ratusan dalang lainnya yang setia pada profesinya. “Kita punya paguyuban, Perpadi namanya. Di Kabupaten Bandung saja, ada lebih dari 100 dalang. Dan bagi kami, banyaknya dalang tersebut bukan jadi saingan, tapi lebih pada sebagai patner kerja yang saling bahu-membahu mengembangkan seni wayang golek,” jelas putra tertua Asep Sunandar Sunarya ini.

Jalan untuk melestarikan seni budaya Sunda ini, terus dirintis keluarga besar Sunarya. Bila sebelumnya, tidak ada pengajaran khusus bagi para calon dalang, kini sebuah padepokan tengah dipersiapkan guna melestarikan seni wayang. Bukan hanya menggodok para dalang muda, tapi seni budaya pendukung lainnya. Dalam tahap awal ini, baru warga sekitar Kampung Giri Harja Desa Jelekong Kecamatan Baleendah saja yang diprioritaskan untuk belajar kesenian Sunda ini. Namun ke depan, tidak menutup kemungkinan menerima dari luar daerah.

“Sebelumnya, kita hanya belajar otodidak dari lingkungan. Ke depan, karena kita ingin lebih mengembangkan seni padalangan ini, kita tengah siapkan padepokan atau perguruan Giri Harja. Bangunan dan fasilitas lainnya masih dalam proses penyelesaian. Kendati demikian, pengajaran sudah kita mulai setahap demi setahap,” tandas Dadan. (*)

 *** naskah ini ditulis pada 2006 dan pernah diterbitkan secara berseri di Harian Seputar Indonesia.